Posted by: Echin | Mei 12, 2008

From Heart to Gashuku

Seperti yang diberitakan, taon ini Black Belt Course digabung sama Gashuku. Dan tidak ada gashuku nasional, tapi lebih diutamakan untuk gashuku daerah. Alasan Shihan sih, beliau ingin berkunjung ke daerah-daerah. “Sekalian jalan-jalan, ya, Shihan?” hehehe……

Hari kamis kemaren tepat 2 minggu setelah ujian dan kumite terakhir. Hari Jumat, aku masih “terseok-seok” ama masalah kaki. Well, menyiksa. Tapi hal itu bukan masalah buat acara mo jalan-jalan. Yap, sebelum ke Dojo Batu, aku sengaja mo maen ke Malang dulu. So, kelar Jumatan (yang mana aku gak jumatan, hehehe), aku berangkat dari kos. Menuju kos temen di Unair, tujuannya buat minjem sepatu kets. Yup, perlu dibela-belain karena akan ada acara lari pagi, sementara aku gak punya running shoes.

Sorenya, nyampe di Malang, langsung meluncur ke kontrakan temen2 di Sumbersari. Pas mandi, nyoba nyenggol aer. “Gak dingin”. Seep. Malang sedang panas. Senangnya hatiku, turun panas demamku. (itu iklan dodol!)

Batu, Sabtu pagi. Ketika datang, semua udah pada siap pake Dogi. Yeah, sesuai jadwal, latihan pertama jam 10.00, aku nyampe 09.25. Sebenar-benarnya, aku mo gak letihan, tapi akhirnya perasaan dari dalam hati memaksa. “Harus latihan”. “Harus latihan”. Intinya, ini karena kehadiran Shihan JB Sujoto. Yap, aku merasa sangat berterimakasih pada beliau, karena tanpanya, aku mungkin gak pernah kenal dengan Kyokushin.

Semua siap di dojo. Berbaris rapi. Menunggu shihan Sujoto masuk dojo. Lalu, Shihan Tedjo Lesmono yang sudah di dojo, memerintahkan untuk Seiza. Posisi duduk siap untuk meditasi. Yaitu dengan posisi kaki dilipat saling menumpuk (kaki kiri di bawah) dan diduduki.

Deng…Deng..Deng…. (musik serem…)

Dengan posisi seperti itu, cedera otot dan engkel kaki kiri yang masih terasa menyiksa, rasanya bakal bertambah kejam. Sambil pikir panjang, aku nyoba seiza. “Crriiiiingngngngng……” Mungkin begitu suara kalo difilmkan. Rasa sakit yang amat sangat langsung menjalar dari pergelangan kaki kiri ke seluruh tubuh

Rasa sakit luar biasa yang bikin lemas, seperti kamu kena diare. Sesakit bisulmu di pantat terduduki ato dicubit. Senyeri bokongmu abis ditabok ibumu pake sapu. Dan bikin pusing kepala sepusing kepalamu abis nyium kentut.

Akhirnya aku coba pelan-pelan. Tahan…. Tahan…. Akhirnya gak kuat nahan, aku coba angkat badan (yang berarti angkat pantat). Trus duduk lagi. Nahan lagi. Gak tahan, angkat lagi. Nahan lagi. Gak tahan lagi, angkat lagi. Tapi semua itu aku usahakan dengan gaya se-cool mungkin biar gak dikira lagi ambeien. Hehehe…..

Sepuluh menit, Shihan Sujoto masuk. Latihan dimulai. Waktu pemanasan, perlu sedikit memaksakan diri. Waktu pukulan, kaki gak terasa sakit. (Ya jelas lah, orang latihan pukulan tu dimana-mana gak ada yang pake kaki, Dodol!). Waktu, tendangan. Mae Geri, Kin Geri, Mawashi Kubi Geri. Yes, itu tendangan yang memerlukan kekuatan engkel. Akhirnya ya cuma kaki kanan yang bisa mantap.

Batu, 16.00. Latihan kedua. Aku udah keder lagi dengan seiza. Tapi apa yang terjadi? Aku bisa seiza dengan tenang, santai, dan mantap. Tanpa rasa sakit yang tadi pagi terasa. Thanks God. Sepertinya semangat yang keluar bisa mengalahkan rasa sakit. Sore itu aku bisa latihan dengan sedikit tenang, meski masih terasa sedikit nyeri.

Batu, 19.00. Kelar makan malam, mandi. Dan ternyata, aernya gak dingin, Bo’. Aku bisa mandi dengan tenang. Kelar mandi, langsung berkumpul di dojo untuk diskusi. Dan tanpa aku duga sama sekali, Shihan Sujoto membeberkan semua pergolakan yang terjadi di perguruan secara detail. Lengkap. Lugas. Tajam. Dan terpercaya.

Batu, 23.00. Grup karateka Tulungagung ngumpul, dan memutuskan untuk ngopi. Hahaha…. Akhirnya kita 4 orang naik ke Payung, buat sekedar cari jagung bakar ato kopi, ato pisang bakar, ato roti bakar, ato rokok. Sebenarnya kita pengen maen bilyar, tapi gak jadi.

Batu, Minggu, 01.00. Pulang dari Payung, mencoba tidur. Yang mana sampe setengah jam kemudian masih belom bisa tidor. Hiks… Tapi rasanya malam (pagi) itu gak begitu dingin. Sementara yang laen pada tidur dengan kaos rangkap, bercelana panjang, berselimut, berjaket, berkaos kaki, dan posisi melungker (posisi ini dipercaya bisa menambah kehangatan), aku cuma pake kaos dirangkap singlet, jaket, dengan celana pendek selutut. Udah. Tanpa selimut, tanpa kaos kaki ato yang laen, dan dengan posisi lurus lempeng (tidak melungker, huahaha).

Dan memang, selama tidak ada angin, semua aman terkendali. Tapi lama kelamaan, angin mulai berhembus. Yang akibatnya aku serasa tidur di kulkas. Pernah nyoba tidur di kulkas? Kalo belom, coba aja. Ntar kasih tau aku gimana rasanya, soalnya aku sendiri belom pernah tidur di kulkas, gak muat seh. Terpaksa harus nahan. Caranya? Jangan bergerak, karena gerakan berarti akan menggeser kaki yang kemungkinan besar terjadi gesekan. Gesekan menimbulkan panas. Memang anget sih, tapi setelah kena anget, rasanya bakal menjadi jauh lebih dingin. (itu teori saya, hahaha…). So, mending jangan bergerak.

Batu, 09.00. Dasar bocah. Anak-anak kecil dari Surabaya pada ngajakin ke rumah kontrakannya Dr. Azhari. Pelaku terorisme di Indonesia yang disergap dan akhirnya meledakkan diri. Kita kesana bareng 4 karateka cewek dari Dojo Univ. Macung, Malang. Disana, di depan rumah bekas ledakan, eh, bocah kecil-kecil minta poto-poto. Akhirnya kita poto di depan rumah. Dasar orang udik!

Batu, 10.00. Latihan. Melihat beberapa senpai ujian mengambil Shodan (Dan 1 / sabuk hitam). Dan beberapa orang Yudansha (orang yang sudah sabuk hitam) menaikkan tingkatan Dan-nya. Selesai ujian, seperti keinginan ketua Pengda Jatim, Senpai Utomo, kita ngadain kompetisi kecil. Yaitu Push-up dan jalan dengan tangan (berpasangan).

Kompetisi push-up, aku mewakili Surabaya. Dan kompatisi dimulai. Beberapa senior sanggup hingga 61 kali, 59 kali. Dengan jumlah itu, sebenarnya aku tidak perlu khawatir. Tapi masalahnya, selama 2 minggu terakhir aku sama sekali tidak melatih push-up. Ditambah lagi, otot pundak dan lengan atasku terasa agak njarem, akibat 2 minggu tidak latihan sama sekali.

Giliranku. Dengan kepercayaan diri, dan disemangati dan disoraki teman2 dari Surabaya, “Surabaya…Ervin…Surabaya…Ervin…” Sret…sret…sret..sret… Sampai kekuatan terakhir, sampai akhirnya aku sama sekali gak kuat ngangkat badan. “82,” kata sensai yang bertugas menghitung jumlah push-upku.

“Lumayan” batinku.

Eh…, ternyata ada yang sampai 101 kali! Kalah dah. Hasilnya, aku diurutan 3, dengan 82 kali, setelah 101 dan 99.

BTW, coba saja taun depan ada lagi, aku yakin bisa menang. Karena apa? Yah, karena aku sudah pernah melakukan 80 kali dengan posisi kaki di atas kursi. Kalo dengan kaki di atas kursi aja bisa 80 dengan tanpa susah payah, tanpa ngoyo, apalagi dengan posisi kaki biasa (di lantai). Huahahaha…. Somby…. Hehehehe….

Sementara untuk jalan dengan tangan, Surabaya di urutan kedua. Bagus lah. Tidak memalukan, apalagi notabene kali ini Surabaya adalah tuan rumah.

Kelar latihan, makan siang, dan SAYONARA…..

Shihan, Sensai, Senpai, Kohai semuanya, sampai ketemu lagi di lain kesempatan.

OSU!

 

 

nb :

ketemu lagi di Dojo Batu pada 26-27 Agustus 2008, setelah kejuaraan Indonesia Open Tournament 3rd di Surabaya (23-25/8/2008). Dengan seluruh atlet dan pelatih dari Kazakhstan, Afghanistan, Iran, Pakistan, Singapura, Australia, Malaysia, dan yang terpenting, Jepang. Semoga Kancho Kenji Midori berkenan datang untuk melatih kita.

Older Posts »

Categories