Lir-ilir, lir-ilir
Tandure wus sumilir
Tak ijo royo-royo
Tak sengguh temanten anyar
Bocah angon, bocah angon
Penekna belimbing kuwi
Lunyu-lunyu penekna
Kanggo mbasuh dodod iro
Dodod iro, dodod iro
Kumitir bedhah ing pinggir
Dondomana, jlumatana
Kanggo seba mengko sore
Mumpung padhang rembulane
Mumpung jembar kalangane
Yo surak’a, surak “hiyoo”
Minggu malam kemaren, gak tau kenapa tiba-tiba saya inget lagu ini. Trus muter lagu ini di tengah malam (sambil telpon, lagi! *geblek*). Lagu ciptaan Kanjeng Sunan Kalijaga ini terasa begitu menggetarkan. Lagu kebangsaan saya pada masa kecil. Kira-kira gini maknanya:
1.#Semilir. Tanaman sudah bersemi. Menghijau indah. Seperti pengantin baru# Menggambarkan hamparan tanaman yang bersemi, menghijau, bergoyang lembut ditiup angin semilir, dan dilihat dari tempat yang tepat dan teduh, sangat indah (try to imagine). Tingkat kemudaan itu disamakan juga dengan pengantin baru. Hidup baru, usia muda yang penuh harapan, potensi, dan siap berkarya.
2.#Anak gembala. Panjatkan pohon dan ambilkan buah Blimbing itu. Meski licin, panjatkan. Untuk membersihkan bajumu# Anak gembala berarti anak muda yang masih polos. Konotasi inilah yang sering muncul seketika bila orang Jawa menyebut ‘bocah angon’. Namun pengertian ‘bocah angon’ dapat pula ditingkatkan menjadi pemimpin. Pemimpin keluarga, tokoh masyarakat, dll. Buah Blimbing yang bergigir lima (5), melambangkan rukun Islam (juga kewajiban sholat). Ambillah, raihlah meski susah, licin. Karena sari buah Blimbing (yang jenis blimbing wuluh) bisa dipakai untuk membersihkan noda di pakaian. Rukun Islam bisa membersihkan pakaian kita. Pakaian dalam hal ini bisa berarti perilaku, sikap mental.
3.#Bajumu. Berkibar tertiup angin karena robek di bagian tepi. Jahitlah, rapikanlah. Untuk menghadap nanti sore# Perindahlah dirimu dengan baju yang bagus dan pantas (tidak robek) sebelum seba. “Seba” adalah istilah yang dipergunakan untuk perbuatan ’sowan’ atau menghadap raja atau pembesar lain di lingkungan kerajaan. Disini berarti menghadap Allah SWT (ketika mati). Waktu sore adalah senja dalam kehidupan, menjelang kematian kita.
4.#Mumpung rembulan bersinar terang. Mumpung waktu masih longgar. Silahkan bersorak “Hiyoo”# Manfaatkan terang cahaya dalam kegelapan yang ada, Manfaatkan keluasan kesempatan yang ada, jangan menunggu sampai waktunya menjadi sempit bagi kita. Saat terang bulan adalah saat yang tepat di saat seisi alam semesta keluar melantunkan pujian kepada Sang Hyang Tunggal, Gusti ingkang murba ing Jagad. Dengan begitu janganlah ragu lagi untuk tetap bergembira merayakan semua ini, kalau ingin bersorak juga bersoraklah dengan gembira penuh ekspresi.(*)
Secara tersirat, lagu ini merupakan pesan pada manusia untuk menunaikan rukun Islam. Makna lagu ini bisa lebih luas. Sebuah pesan yang sangat indah.
Bagiku, lagu ini sangat mengguncang. Terasa ada kesan mistis. Meski sebenarnya bercerita tentang kewajiban umat manusia, dan perilaku dalam kehidupan. Ngomong-ngomong, ini lagu yang wajib biasa dinyanyikan bagi kalian yang ingin main-main memanggil jaelangkung.
Aku inget pas waktu kecil di”nina-bobo” papaku dengan dinyanyikan lagu ini. Yang jelas maksudnya untuk menidurkan anaknya, bukan untuk memanggil jaelangkung biar ngerasukin aku. Waktu itu aku gak ngerti, lagu ini maksudnya apa, kok dipake buat meninabobokan aku. Setelah tumbuh gedhe dan mengeti maknanya, ternyata dimaksudkan biar lagu ini meresap sejak awal dalam batin anak perdananya. Dan aku sering menyanyikannya.
Waktu itu aku inget sempet nanya, “Kalijaga kuwi sopo?” Dan papaku menceritakan dongeng sejarah sebelum tidur. Tentang Brandal Lokajaya, yang melihat pohon cemara (kalo ga salah) berbuah emas. Brandal Lokajaya yang selalu merampok dan memalak orang lewat itu sebenarnya Raden Said, putra adipati Tuban, Raden Arya Wilwatikta (sudah muslim). Yang akhirnya bergelar Wali (sunan) dan masuk sebagai salah satu dari Wali Songo setelah bertemu dengan Sunan Bonang dan menjadi murid serta sahabatnya. (terlalu panjang kalo diceritain semua disini)
Coba kalau sempat, kalian ziarah ke makam Wali Songo. Aku udah dua kali ziarah, lengkap dari Jatim hingga Jabar. Dan rasanya bercampur antara amat sangat senang dan amat sangat takut. Baru ziarah ke makam Wali aja udah kayak gini, apalagi ke makam Rasullullah. Subhanallah. Moga keturutan. Amin.
Hehe, tapi mesti perjalanan religi gitu, kok ya ada aja peristiwa-peristiwa aneh. Mulai dari memasuki rumah orang tanpa permisi (baca:kebelet), balapan ama tukang ojek, sampe olahraga naek gunung di Gunung Jati dua kali gara-gara TOAnya aku tinggalin di atas.
#Tentang lagu “Ilir-ilir”, kalo ngerti maknanya, coba puter lagu itu yang dinyanyikan Kyai Kanjeng (Emha Ainun Najib), “Ilir-ilir & Sholawat badar“, pada malam hari (tengah malam). And You’ll feel the sensations.
*Oleh Echin, dari pemaknaan bahasa Jawa kemampuan otaknya sendiri dan berbagai sumber.
nb : menyanyikan lagu ini untuk meninabobokan anak tidak akan membuatnya kerasukan jaelangkung.
Ditulis dalam Uncategorized
