Friday morning, open up my eyes, saw the clock on phone. Yaelah….07.42. Telat.
07.45. Good, udah tidur cuma sebentar lagi, mbangkong lagi. Seperti biasa, Jumat pagi saatnya nostalgia sama pak Ashjar, dosen getaran yang begitu cinta mati ama kuliah getaran, dan beberapa mahasiswa veteran, termasuk diriku. Huhuhu….
07.58. Dengan pertimbangan segala kemungkinan, akhirnya aku mutusin gak kuliah. bolos. Mayan, seh, jatah bolos 3x, masih kepake sekali. Sebenernya itu udah termasuk tindakan memanipulasi tanda strip/minus (baca: gak masuk), dengan parafku yang emang sengaja dibuat dengan nada dasar “strip”.
08.03. Dan pagi itu juga demikian, aku langsung SMS Sanyoto, “Nyot, nitip TA getaran yah, tengkiu”, tanpa balasan.
Jam 9an, ke graha, nukerin tiket buat nonton Twilite Orchestra. Tanpa susah payah, aku nukerin. Tapi masalahnya tenyata gak bisa nambah beli tiket lagi, padahal cuma butuh tambahan 1. Kata mas panitianya seh tar sore jam 5, tapi jumlah tiket tambahan itu gak jelas.
Kelar ngerampungin misi nukerin tiket, aku ke kampus, dengan harapan bisa ketemu sama pak Mahardjo, pimbimbing TM3-ku. Dan sungguh bukan pagi hari yang bagus. Coz, yang aku temui pertama begitu nyampe Plaza Kapal adalah pak Ashjar! Akhirnya aku pura-pura jadi pesilat sakti yang berasal dari Goa Hantu, dengan mengasumsikan tasku sebagai monyet, dan pulpen (yang kebetulan aku genggam) sebagai tongkat. Aku tau sepenuh hati kalo doi ngliatin aku terus, tapi mo gimana lagi. Aku berlagak lagi syuting film “Si Botak Dari Goa Hantu”. Huahaha…..
Pagi yang indah jelek. Pagi mbangkong, bolos getaran, eh malah ketemu dosennya.
Setelah muasin napsu makan, aku berhasil mencegat pask Mahardjo, dan memaksanya asistensi sebelum waktu jumatan tiba.
Kelar jumatan, rencana mo ke CCCL (semacam pusat kebudayaan Prancis di Surabaya). Tapi beberapa pekerjaan perlu diselesaikan, nonton film Bourne Identity.
1/2 4, Bareng Jaed, aku ke CCCL. Tujuannya adalah mengemis undangan buat nonton konser Jazz, oleh Frederick bla bla bla, jazzer Prancis. Dan setelah ketemu si mbak resepsionis, aku kembali menelan pil pahit merek oh-my-God-they’re-geblek dengan penuh kenistaan kekecewaan. Oh yeah, si mbak bilang, “undangannya udah habis mas, sejak senin lalu”.
He? Senin? Lha sementara mataku nangkep basah leaflet yang mejeng di papan info di kampus aja baru selasa. Siapa seh yang demikian gebleknya masang tuh leaflet? Tapi gak kaget juga sih, lha emang undangannya gratis gitu. Tentunya banyak orang akan memotong urat malunya untuk mendapatkan segala sesuatu yang berbau GRATIS! Huhuhu……
Well, kelar manyun bentar di “Prancis”, aku langsung ke graha. Dan mendapati sekitar 300an orang lagi ngantri sembako tiket. Padahal panitia belom membuka layanan pembelian tiket tambahan yang dijanjikan tadi pagi. Tak lama, sebiji panitia ngasih info kalo ada 137 tiket. Dan tiap orang (yang ngantri) maksimal boleh beli 2. Dengan mempertaruhkan keberuntungan, aku langsung ikutan ngantri di belakang, coz kalo di depan aku bisa dicium massa pake sendal. Tanpa membuang kesempatan, aku berhasil melakukan beberapa manuver strategis, dan menyodok barisan depan, tiba-tiba jadi di tengah antrean. Hehehe…oh yeah….
Namun, sia-sia, tepat saat itu, panitia tereak-tereak “Bis, bis, bis”. Karena suasana yang cukup riuh dan rame, aku kira ada bis kota mo lewat graha, ato yang gak kebagian tiket diganti dengan mendapatkan sebuah bis. (dengan kecerdasan otakku) Ternyata tiketnya abis.
Malemnya, setengah jam sebelum acara dumulai, aku ke graha. Mo markir motor, tapi dengan ritual muterin graha dulu (gak jelas pa’an maksudnya). Dan selanjutnya tolah-toleh, nyari, syapa tau diantara manusia yang lagi antre masuk ini ada beberapa biji manusia yang aku kenal. Ternyata gak ada. Sambel.
Gak lama, aku dapet kabar dari beberapa cuil manusia yang ikutan ngantre, tapi di sebelah sono, sementara aku di sebelah sini. Akhirnya aku nemu Nadya, Rima, ama Ve (cowok ini bukan Ve AFI, tapi sodaranya Nadya). Ditambah lagi Asri ama cowoknya. Didepan, rombongan kita ditambahi diinfeksi ama banci Sahru, Banci Aji, and Niluh. Trus, kita masuk rame-rame (emang rame). Dan naek ke lantai 3. tempat yang sangat strategis buat nonton konser orkestra. Ngambil tempat duduk.
Kita ngambil tempat duduk yang permanen, bukan yang kursi lipat. Dan tidak mempersiapkan diri untuk sebuah kejadian yang bisa disebut (mungkin) “anarkis”.
“Gak nyampe ya” Ve nyoba njulurin kakinya ke pagar pembatas di depannya.
“Dimajuin aka kursinya” aku narawin ide cemerlang.
“Iya” Ve berdiri bentar, trus nyoba narik tempat duduknya yang emang terpaku ke tembok. “Gak bisa, dipaku”
Trus dia duduk lagi. Dan tepat saat itu, aku ngerasa dia duduk dengan sebuah gaya yang aneh, gaya yang belom pernah aku liat dalam sepak bola, volley, basket, apalagi dalam gaya fashion.
Dan “GRAAKKKKK…..” (bukan aba-aba baris, tapi kira-kira seperti inilah suara ketika itu)
Ya, akhirnya kita harus dihadapkan pada kenyataan bahwa tempat duduk kita rusak. Dan dijadiin tontonan pembuka sebelum Addie MS tampil. Ya, ini terjadi karena body Ve yang bisa dibilang gempal.
Aku observasi, liat ke belakang, kebawah, dan mangambil kesimpulan bahwa sesuatu yang membuat bangku itu nempel di tembok, telah lepas dari tempatnya. Dan gak tanggung-tanggung, dari 3 penumpu itu, 2 lepas. Hebat (*geblek mode: ON).
Sesaat setelah kejadian itu, aku liat si Ve (dalam kasus ini dia terdeteksi sebagai tersangka, gua nggak) bingung. Nadya, dia rada gugup, mungkin malu, dan mungkin mikir, “ni anak kalo dicekik mati gak sih” sambil liatin aku ama Ve. Rima, dia kayaknya masih belum ngerti harus ngambil tindakan apa, ketawa, malu, ato nabokin aku ama Ve pake sobekan tiket. Aku, nyantai aja. Stay cool. Cuek. Ketawa. Dan bergaya hal-ini-bukan-perbuatanku-lho. Sementara orang-orang di bangku belakang, pada ketawa-tawa gak jelas.
Dari pada gak bisa duduk nyaman, aku ngambil kursi lipat yang kosong. menempatkannya di depan bangku keparat rusak tadi. Fungsi pertama untuk aku duduk, kedua buat nahan bangku rusak yang tetep diduduki Ve, ketiga buat ngeruwetin jalan orang. Wehehehe…… Dan cuma satu yang dipesen Ve, “mas kalo berdiri ngomong loh ya” dia takut jatuh.
Trus konser dimulai. Apik bangedz! Mereka cukup lihai memainkan jari-jarinya. Beberapa lagu dimainkan. Indonesia Raya, Hymne ITS, Mission Impossible, Final Fantasy VII, Bangun Pemuda, Jembatan Merah, Setangkai Melati, Yamko Rambe Yamko, dan beberapa aku lupa. Serta lagu klasik yang mirip pengucapan mantra memanggil roh halus.
Yamko Rambe Yamko, ni lagu yang cukup aku sukai waktu SD. Karena liriknya yang bagiku aneh, tapi iramanya ngebeat. Dan ini adalah lagu kebangsaan Nadya. Yah, si Nadh yang numpang nongol ke dunia di Nabire itu mengakuin kalo itu lagu kebangsaannya.
“Lagu kebangsaanmu, Nadh” aku komen.
“Iyah”
“Gak berdiri? Lagu kebangsaan loh”
“Emoh. Gila aja, malu”
“Mestinya kamu bangga”
“Iya seh mas”
“Makanya, mestinya kamu berdiri tegak, sambil mengepalkan tangan kanan dan ditaruh di atas dada kiri” aku ngusulin sebuah aksi kebanggaan. Yang kayaknya cuma membuat Nadya menatapku dengan penuh pesona pengen menggorok leherku pake jarum suntik karatan.
Dari awal, aku udah nahan buat mengapresiasi kekagumanku akan permainan TO. Dan beberapa lagu terakhir, aku sangat terkesan, dan langsung melakukan Standing Ovation (tepuk tangan sambil berdiri). Sebuah penghargaan tinggi bila suatu penampilan mendapatkan Standing Ovation dari audience.
Namun, penghargaan itu gak termasuk ke Ve, dia hampir jatuh. Mehehe…aku lupa kalo dia pesen jangan berdiri mendadak.
“Sori Ve”
Dan pinternya diriku, kejadian itu terulang sampe dua kali.
“Mas, kalo berdiri ngomong dulu” Ve protes.
“Sori, takira kamu berdiri juga. Sori, ya. Sekali lagi dapet piring kamu. Hehehe”
Konser 1,5 jam itu terasa kurang memuaskan. Ya, mereka begitu menawan, mempesona, dan mengesankan.
Addie MS
Ditulis dalam Uncategorized
